Refleksi Kader HMI di Tengah Transformasi Zaman
Oleh: Gie Nurlette (Kader LKII Komisyariat FEBIS Unpatti)
MalukuKreasi.id, Ambon: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) identik dengan kader yang menjiwai nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Namun di tengah transformasi zaman yang modern saat ini, kader HMI perlahan kehilangan eksistensinya sebagai organisasi perjuangan sebagaimana tertuang dalam Pasal 8 AD/HMI. Dimana pasal itu menegaskan bahwa HMI sebagai organisasi perjuangan, bukan sekadar organisasi formalitas.
Sementara kader HMI saat ini banyak yang memilih berkontaminasi dengan “perbudakan zaman” hari ini. Sebab utamanya: minim literasi sejarah. Padahal kalau dilihat dari sejarah kelahiran HMI, organisasi ini lahir karena 3 problem besar.
1. Problem Kebangsaan.
2. Problem Keislaman.
3. Problem Umat.
Atas dasar 3 problem inilah, Ayahanda Lafran Pane, menuangkan ide dan gagasan untuk menjawab realitas kala itu. Namun ironi terjadi hari ini, kader HMI banyak yang kehilangan nalar kritis dan kesadaran untuk menjawab realitas yang ada. Padahal amanat organisasi sudah jelas tertuang dalam Pasal 9 AD/ HMI kader HMI harus mampu menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi, yang berjuang untuk penegakan keadilan dan kebenaran. Tugas kader adalah menjawab penindasan dan ketidakadilan yang terjadi di kalangan sosial saat ini.
Kemudian dalam Pasal 6 AD/HMI, HMI ditegaskan sebagai organisasi kemahasiswaan, organisasi perjuangan, dan organisasi kader. Tapi faktanya kader HMI lebih memilih euforia dengan perbudakan zaman hedonisme, pragmatisme, dan mengejar kekuasaan semata. Kader telah kehilangan jati dirinya sendiri. Sungguh tragis nasib kaderisasi ke depan jika ini terus dibiarkan.
Dari lembaran sejarah, HMI didirikan tanpa intervensi pihak manapun. Murni gerakan intelektual mahasiswa untuk umat dan bangsa. Dari catatan itu kita tahu bahwa kader HMI saat ini banyak yang melenceng. Banyak kader yang membawa kiprah HMI menuju kekuasaan hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan, bukan untuk umat dan bangsa seperti cita-cita awal Ayahanda Lafran Pane.
“Refleksi” Jika HMI ingin kembali ke khittah, maka kader harus kembali membaca, kembali berpikir kritis, dan kembali berjuang. Karena HMI bukan sekadar nama organisasi di KTA, tapi amanah sejarah. (*)




Tinggalkan Balasan